Melihat orang pagi-pagi sarapan dengan secangkir kopi pahit bukan hal baru bagiku. Orang ngopi ditemani sepiring pisang goreng menurutku biasa saja. Atau ditemani sekerat roti, uli bakar, ketan bahkan singkong rebus tak membuatku bergeming. Biasa saja.
Kopi dan kacang kulit (dok.denik)
Namun bagitu melihat orang sarapannya kopi pahit dan sepiring kacang kulit barulah aku bisa berucap "wow" seraya membelalakkan mata. Ini baru beda sendiri. Agak nyleneh sih kataku. Entah apa yang ada dipikirannya sarapan kok dengan kacang kulit.
Sayang aku tidak sempat menanyakan hal tersebut pada orang yang bersangkutan. Sebab orang tersebut adalah bapakku. Bapak yang sudah berpulang sebelum aku puas bertanya.
Kopi pahit dan kacang kulit sarapan yang menurutku nyleneh. Tapi itu merupakan sarapan bapak setiap hari yang kusaksian selama bertahun-tahun.Tidak hanya di rumah melainkan dimana saja.
Atas kebiasaan tersebut orang-orang menyebut bapak aneh. Tetapi aku menyebutnya bapakku berbeda dari bapak-bapak lainnya. Sarapan kok dengan kopi pahit dan kacang kulit.
Kalau sedang kumpul-kumpul lalu disuguhi kopi pahit dan kacang kulit mungkin masih maklum. Atau saat begadang dan ronda malam temannya secangkir kopi pahit juga kacang kulit rasanya mantap sekali.
Lha, ini sarapan pagi? Apa enggak nyleneh namanya? Meski awalnya juga merasa aneh dengan kebiasaan bapak. Namun lama-lama terbiasa melihat kebiasaan tersebut. Bahkan kalau bepergian kerap membeli kacang kulit untuk bapak.
Dulu kebiasaan tersebut kuanggap angin lalu. Sekarang setelah aku cari tahu kebenarannya. Rupanya ada banyak kebaikan dari sepiring kacang tanah yang jadi kesukaan bapak.
Dikutip dari Wikipedia Indonesia ternyata kacang tanah merupakan sumber nutrisi nabati yang padat gizi. Didalamnya terdapat protein, serat dan lemak tak jenuh semacam omega 6.
Wow, aku baru tahu kalau sarapan bapak ternyata menyehatkan.
Bapakku memang beda dari bapak orang lain. Namun seperti laki-laki pada umumnya. Laki-laki tidak bercerita tapi langsung action. Ah, jadi kangen bapak deh tuh.
Note: Tulisan senada tayang juga di Kompasiana/Denik13
Komentar
Posting Komentar